Tanganku menyambar cepat, memukul pinggiran mangkuk keramik itu.
PRANG!
Pecahannya berserakan di atas ubin semen. Cairan merah pekat terpercik ke kaki telanjangku, hangat dan lengket. Aroma asam yang tajam langsung menusuk hidung.
Bukan darah. Ini cuma sup tomat pekat.
Ibu melangkah mundur, matanya membelalak ketakutan menatap pisau di tangan kananku. Napasnya memburu, bibirnya gemetaran tanpa suara.
"Laras... kenapa kamu bawa pisau?"
Aku menunduk, menatap cairan merah yang perlahan meresap ke dalam celah ubin lantai. Di antara potongan tomat yang hancur, ada sebiji mata melotot menatapku.
